Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manjaIndahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu
Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati
Semarang, 07 Mei 2015
Senandung
lagu untukmu Ayah, mengalun lembut ditelinga menemani saat terjagaku.... Tepat
jam 24.00 WIB menunggu kedatanganmu pulang untuk sekedar memberi senyuman
Malam ini
sejenak merenung memikirkanmu... Melihat tidur lelapmu, wajah letih sudah tak
tertutupi lagi saat engkau tidur ayah... Sering kali ku melihat engkau tertidur
dengan ekspresi seperti itu, rasa letih dan lelah selalu menemani harimu.
Engkau hebat ayah... Selalu terfikir olehku pantaskah aku masih mengeluh
didepanmu ? Diwaktu yang sama sejenak sedikit menghela nafas dan bertanya
mengapa rasa sakit dimasa lalu ini masih membekas ayah ? Apa aku selemah ini
ayah ? Ayah bantu aku....
Terkadang
melihatmu membuat sedikit fikiran melayang ke masa lalu,
dimana engkau terasa asing bagiku. Itu salahku yang mencoba menghindarimu..
Namun taukah kau ayah, aku selalu mengikutimu berangkat kerja saat kelas 2 SD ?
Melihatmu berangkat naik bus hingga tak terlihat oleh jangkauan mata kecilku
dulu. Saat itu hanya air mata yang keluar, tak satupun kata terucap dibibir... Dilain waktu aku selalu menunggumu pulang saat sedang luar kota, mungkin
puluhan pertanyaan yang sama aku ajukan ke ibu “kapan ayah pulang?” Taukah ayah
aku hanya ingin diajarin PR saat itu seperti anak lainnya. Dan semua itu hanya aku yang tau ayah.. Hanya aku...
Teringat masa
itu, apalah dayaku yang hanya bisa menahan rasa yang tak dimengerti, tapi itu
sakit ayah. Coba lihat aku sebentar... dalam batinku menjerit dimana akal
sehatku masih bisa mengontrolnya. Namun aku tau itu terbaik ayah, semua air mata itu menjadi sumber kekuatanku
sekarang. Tuhan selalu memberiku yang
terbaik dibalik rancanganNya. Karena itu semua aku menjadi anakmu yang sekarang ini ayah.
Pengalaman adalah guru terbaik ... Lihatlah saja anakmu yang sekarang ayah, aku
gak akan menengok kebelakang lagi... Aku akan berjuang untukmu ayah... Untuk
lelahmu saat ini aku akan menebusnya ayah... Tolong doakan anakmu ini agar selalu beruntung dalam RidhoNya...
Entah kenapa
aku benar - benar sayang padamu ayah, sekarang ini satu - satunya yang aku
punya adalah engkau. Tak berhak ku membuka luka lama itu lagi dihadapanmu. Saat
ini engkau adalah lelaki terbaik yang aku tau. Tak seorangpun bisa menyamaimu
ayah, karena ku tau engkau tak kan terganti.
Salam terhangatku ayah...
Desi Ariyani

